4 Kursi Menteri Disiapkan Untuk Gerindra di Reshuffle Jilid 3 Kabinet Jokowi

Topik Nusantara

4 Kursi Menteri Disiapkan Untuk Gerindra di Reshuffle Jilid 3 Kabinet Jokowi

Wacana reshuffle kabinet kerja jilid IV dikabarkan bakal dilakukan Presiden Joko Widodo. Bukan hanya perombakan kabinet, rumor Partai Gerindra merapat ke pemerintahan juga kencang berembus. Bahkan mereka mengklaim bakal ditawari empat jatah kursi menteri dari Jokowi.

Itu diungkapkan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono. Dia mengklaim mendapat informasi dari orang dekat Jokowi bahwa Partai Gerindra akan ditawari empat pos kementerian, yaitu Menko Polhukam, Menteri Pertanian, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta Kepala Staf Kepresidenan.

“Saya sudah dapat info A1 dari orang dekat Pak Joko Widodo, bahwa Gerindra di tawarkan 4 posisi di pemerintahan yaitu Menkopolkam, Mentan, Menaker dan Kepala KSP,” kata Arief saat dihubungi, Selasa (3/1).

Menurutnya, jika tawaran itu benar, DPP Partai Gerindra akan menggelar rapat pimpinan. Rekomendasi rapat pimpinan akan diserahkan kepada Prabowo untuk diputuskan. Arief menegaskan seluruh kader partai akan siap mematuhi instruksi Prabowo terkait keputusan ini.

“Untuk berkoalisi dengan pemerintahan Joko Widodo-JK yang pasti semua keputusan ada di tangan ketua dewan Pembina Gerindra. Kami sebagai anak buah tinggal ikut saja,” tegasnya.

Meski demikian, Arief menuturkan sebenarnya keinginan utama seluruh kader adalah mengantarkan Prabowo ke kursi nomor satu di Indonesia bukan dengan gabung ke pemerintah.

“Kader Gerindra di bawah sejak gerindra berdiri tujuan cuma satu yaitu mengantarkan Prabowo sebagai Presiden. Dan hanya menginginkan kader-kader Gerindra di pemerintahan kalau Presidennya Prabowo dan bukan Joko Widodo,” klaimnya.

Oleh sebab itu, seluruh kader dan loyalis mantan Danjen Kopassus ini tidak sama sekali berminat ke pemerintahan Jokowi-JK. Merapatnya Gerindra ke pemerintah dianggap bisa menurunkan elektabilitas Gerindra dan Prabowo yang akan diusung kembali menjadi calon Presiden 2019.

“Karena akan berpengaruh negatif pada elektabilitas Partai dan Prabowo pada pemilu 2019, sebab awal 2018 sudah tahun politik dan Gerindra mulai memanaskan mesin mesin politik begitu juga dengan parpol lainnya,” pungkasnya.

Komentar
To Top