Beda Jokowi dan PM Malaysia Sikapi Rohingya Disorot Media Asing

Topik Nusantara

Beda Jokowi dan PM Malaysia Sikapi Rohingya Disorot Media Asing

Sebuah artikel yang diterbitkan media asing, The Diplomat, mengulas pendekatan yang berbeda dari Perdana Menteri (PM) Malaysia Najib Abdul Razak dan Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) soal krisis Rohingya di Myanmar. Najib dinilai memperlakukan isu Rohingya sebagai isu agama, sedangkan Jokowi dinilai menghindari cara seperti itu.

Majalah internasional yang berbasis di Tokyo itu menerbitkan artikel yang ditulis David Hutt pada 24 Desember. Artikel itu menggarisbawahi risiko berbahaya yang diambil Najib dengan mengabaikan dugaan bahwa masalah Rohingya sudah dibajak oleh jihadis internasional.

Laporan media Singapura, The Straits Times, yang dikutip dalam artikel Hutt juga mempertegas bahwa Najib berusaha meramaikan isu Rohingya dengan “memoles” agama. Sedangkan Jokowi dinilai memilih menghindari isu agama dalam menyikapi krisis Rohingya. Terlebih, isu agama sensitif di Indonesia—negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam.

”Bahwa dia (Najib) secara eksklusif menyebut Jokowi (bukan perdana menteri dari negara-negara ASEAN lainnya) untuk berdiri dalam solidaritas dengan dia dan orang-orang Rohingya jelas menunjukkan dia berharap untuk mengubahnya menjadi isu agama,” bunyi artikel Hutt yang diterbitkan The Diplomat.

”Kita hanya bisa memuji Jokowi untuk tidak mengambil umpan, yang menggoda Presiden Indonesia mengingat ketegangan masalah agama di negaranya,” lanjut artikel tersebut.

”Bahkan, Najib berusaha untuk mengobarkan ini ketika dia menyerukan para demonstran yang berunjuk rasa terhadap Gubernur (nonaktif) Jakarta, Basuki ‘Ahok’ Purnama untuk memperluas perjuangan mereka guna membela Rohingya,” imbuh artikel itu yang dilansir salah satu media Malaysia, semalam (26/12/2016).

Pemerintah Jokowi lebih memilih pendekatan diplomatik. Terbukti, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Lestari Priansari Marsudi berhasil berbicara langsung dengan pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi, di mana Indonesia menyampaikan sikap atas apa yang dialami warga Rohingya.

Cara Indonesia ini lebih dewasa karena tidak mempertaruhkan hubungan persahabatan sesama bangsa ASEAN. Sebaliknya, cara yang diambil Najib telah menuai protes keras Myanmar dengan tudingan pemimpin Malaysia ikut campur urusan dalam negeri negara itu.

Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Datuk Seri Zahrain Mohamed Hashim, pada 22 Desember lalu sudah mengklarifikasi komentar Najib yang menyeret-nyeret nama Jokowi dalam asksi solidaritas untuk Muslim Rohingya yang digelar di Kuala Lumpur pada 4 Desember. Menurut Zahrain, komentar Najib itu hanya mengingatkan Indonesia atas nasib warga Rohingya di Myanmar.

Komentar Najib yang direkam dalam video itu telah viral di internet. ”Saya pernah minta kepada Presiden Jokowi mengajak rakyat Indonesia berdemo. Jangan protes Ahok saja. Rohingya musti diperjuangkan!” seru Najib dalam video berjudul “Heboh!! Perdana Menteri Malaysia Marah-Marah, Ajak Presiden Jokowi Selamatkan Islam Rohingya” itu.

”Soal Ahok, itu maksudnya kalau demo, jangan hanya demo mengenai Ahok, tapi masalah ini (Rohingnya) juga harus menjadi perhatian,” bela Zahrain. ”Tapi ini bukan sebuah intervensi soal kalian yang demo soal Ahok. Tapi maksudnya bukan hanya isu itu saja yang menjadi fokus, tapi isu Rohingnya juga.”

Komentar
To Top