Cara Transaksi Seks di Arena Balapan Liar

Topik Olahraga

Cara Transaksi Seks di Arena Balapan Liar

topikindo.com – Kian malam, akses menuju hunian elit Green Lake City dan Metland Cyber City, Ciledug, Tangerang,kian memanas dan liar. Bukan hanya sekedar taruhan balapan liar, namun sekelompok perempuan seksi mulai mendatangi tempat ini. Sama seperti kaum laki-laki dengan berboncengan mereka melaju pelan di sepanjang jalan yang menjadi track balapan liar. Tak ayal kehadiran merekapun menjadi perhatian kaum lelaki yang lebih dahulu memenuhi jalan ini. Satu dua kali putaran, perempuan-perempuan tersebut sejenak berhenti dan tak lama seorang pria menghampiri.

Ironisnya, perempuan-perempuan tersebut juga tampak masih di bawah umur. Seorang joki balap, Vo, mengungkapkan jika dulu ada istilah kimcil, ciblek, alay ataupun jablay dalam balapan liar, perempuan-perempuan berpakaian minim itu disebut cabe-cabean.

Istilah itu dialamatkan bagi Anak Baru Gede (ABG) atau remaja perempuan yang ada di lingkungan balap liar. ABG cabe-cabean tersebut dikatakannya menganut kehidupan sex bebas, bahkan tak segan menjual dirinya. “Untuk tarif relatif antara Rp150 ribu sampai Rp250 ribu sekali kencan,” ungkap Vo yang dikenal sebaga joki handal di arena balap liar ini.

Vo tidak menampik bila joki yang kerap memenangi taruhan akan lebih mudah mendapat layanan seks dari cabe-cabean. Bahkan terkadang tidak perlu mengeluarkan uang. “Mereka akan merasa bangga bila didekati oleh sang juara apalagi kalau sampai berpacaran. Tinggal bagaimananya kita aja,” tandas Vo.

Karenanya tidak jarang, selain transaksi seks langsung, keberadaan cabe-cabean ini kerap dimanfaatkan pelaku pembalap liar untuk bahan taruhan. Biasanya untuk taruhan ini bersifat pribadi. “Ada joki yang kebetulan juga suka sama cabe-cabean saya nantang balapan. Ya mau ngga mau saya ladeni. Inikan masalah gengsi. Lagipula cabe-cabean juga suka yang berprestasi kan,” tukas Vo berseloroh.

Selain cabe-cabean, namun di tempat ini juga tidak sedikit terdapat perempuan yang murni menjajakan seks. Biasanya perempuan tersebut berusia lebih tua. Mereka mangkal tak jauh dari tempat pedagang minuman ringan dengan suasana yang cukup sepi dan gelap. Sedikit alunan lagu yang keluar dari handphone melengkapi sempurnanya praktik prostitusi di tempat tersebut. Setiap pengendara motor yang melintas tak segan digodanya.

Gambaran kehidupan malam tersebut, diakui seorang petugas keamanan perumahan elit tersebut berlangsung hampir setiap malam. Keramaian mulai terjadi sejak pukul 23.00 hingga pukul 05.00. Banyaknya kerumunan pelaku pembalap liar membuat dirinya tak berdaya melakukan penghalauan. Bahkan polisi sendiri. “Biasanya polisi sekitar pukul 2.00 membubarkan mereka. Namun setelah situasi aman, merekapun kembali lagi melakukan aksinya,” ungkap petugas yang enggan disebutkan namanya tersebut.

Iapun mengaku heran, meski telah banyak memakan korban nyawa, namun hal itu tidak membuat kapok para pelaku balap liar. Dari catatannya, sudah sebanyak 5 nyawa melayang di jalan ini akibat balap liar ini. “Ada yang tertabrak trotoar, ada yang juga jatuh dengan kondisi kepala pecah akibat terbentur aspal,” tambah petugas tersebut.

Petugas inipun tidak memungkiri dengan kualitas beton yang cukup halur, jalan ini memang menjadi favorit digelarnya balap liar. Terlebih letaknya jauh dari keramaian pusat kota. “Banyak yang sebelumnya balap liar dari daerah lainnya pindah ke tempat ini.”

Pihak pengembang perumahan elit inipun dikatakannya telah berupaya menghilangkan balap liar ini. Di antaranya dengan membuat polisi tidur kejut di beberapa ruas. Namun tetap saja, pelaku balap liar tidak juga kehilangan akal dan malah memindah track balapannya di ruas jalan lainnya.
Aksi balap liar inipun kerap membuat warga sekitar resah. Terlebih dengan adanya praktik prostitusi di tempat ini. Wargapun berharap adaya keseriusan dari pihak kepolisian untuk memberangus balap liar dan prostitusi di wilayahnya. “Mungkin tidak cukup setingkat Polsek yang turun tangan. Polres bahkan Polda Banten harus turun. Karenan memang massa yang ikut balap liar ini tidak sedikit jumlahnya. Bahkan bila akhir pekan bisa mencapai ribuan orang kumpul di jalan ini,” ujar Ruyatno, warga Ciledug, Tangerang.

Alasannya selama ini yang dilakukan polisi hanya membubarkan sementara. Hanya dengan menggunakan sebuah mobil patroli , mereka hanya berkeliling membubarkan dan tidak ada yang ditangkap. Biasanya pelaku pembalap liar melarikan diri ke pemukiman warga untuk bersembunyi dan kemudian kembali beraksi lagi. “Harusnya ditangkap dan motornya disita. Razia besar-besaran harus segera dilakukan karena sudah sangat meresahkan,” pungkas Ruyatno

Komentar
To Top