Topik Nusantara

Ini Cerita Sepak Terjang Nur Rohman, Pelaku Pengebom Polresta Solo

Ini Alur Cerita Nur Rohman, Pelaku Pengebom Polresta Solo

topikindo.com – Nur Rohman yang menjadi pelaku serangan bom bunuh diri di halaman Mapolresta Solo, Jawa Tengah pada pukul 07.45 WIB Selasa (5/7) bukan nama baru dalam jaringan teror.

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti bahkan meyakini Nur Rohman adalah jaringan Bahrun Naim, WNI asal Solo yang kini telah berada di Suriah. Pernyataan Badrodin soal Bahrun Naim ini sebenarnya bukan kabar baru.

Hal itu bermula saat Densus 88/Antiteror menangkap Abu Muzab alias Arif Hodayatullah (31) di Bekasi pada 23 Desember lalu. Saat itulah terungkap bahwa Arif menerima dana dan order untuk melakukan aksi teror di Indonesia dari Bahrun Naim.

Abu Muzab menerima kiriman dana dari Naim melalui istrinya. Abu Muzab juga menyediakan tempat untuk menginap tiga orang yaitu Ali, Nur Rohman dan Andika. Saat itu Ali, yang diyakini sebagai WNA Uighur, ikut ditangkap. Dia saat itu juga disiapkan sebagai “pengantin”, sementara Andika dan Nur Rohman sempat buron.

Peran Nur Rohman adalah berbelanja bahan-bahan pembuatan bahan peledak sekaligus membuatnya sebagai bom, sementara Andika berperan membuat bahan peledak dan bom.

Densus kemudian berhasil menangkap Andika di Solo belakangan, sedangkan Nur Rohman masih buron hingga kemudian meledakan dirinya di Mapolresta Solo. Saat kabur, Nur Rohman membawa bahan peledak yang telah dibuat yatu jenis Heksametilendiamin peroksida (HMTD) dan RDX.

Barang berbahaya itu dirakit di tempat kos Ali di sebuah kos di Kelurahan Pejuang, Medan Satria, Bekasi. Bom inilah yang diduga diledakan di Solo. Penangkapan kelompok Bekasi itu kemudian memunculkan nama Jamaah Anshar Daulah Khilafah Nusantara (JAKDN).

Isi dari JAKDN macam-macam. Ada Mujahidin Indonesia Timur, Mujahidin Indonesia Barat, Jamaah Islamiyah, Jamaah Anshoru Tauhid, dan tim Hisbah Solo. Tokoh tim Hisbah sudah ditangkap Densus di Solo pada Agustus tahun lalu seperti Ibadurahman alias Ali Robani alias Ibad, Yus Karman, dan Giyanto alias Gento.

Mereka saat itu ditangkap karena merencanakan meledakkan bom di beberapa tempat yakni kuil Budha Kepunton Solo terkait isu Rohingnya, Mapolsek Pasar Kliwon dan kantor polisi lain di wilayah Surakarta, serta gereja di wilayah yang sama.

Mereka sedianya memilih waktu aksi pada 17 Agustus 2015 atau tepat pada peringatan hari kemerdekaan Indonesia untuk meledakkan bom yang dikendalikan dengan sistim timer. Ibad ini juga adalah orang yang menerima kiriman uang dari Bahrum Naim dan bersama-sama dengan Yuskarman merakit bom.

Sedangkan Giyanto berperan menyiapkan sarana dan prasarana untuk penyediaan bahan peledak. Dia juga berperan menyurvei lokasi target bom. Dari mereka saat itu disita sejumlah barang bukti seperti 25 liter asam nitrat, 21 buah switching lengkap dengan bahan peledak low explosive, dengan beberapa bendera IS.

Ini Cerita Sepak Terjang Nur Rohman, Pelaku Pengebom Polresta Solo
To Top