Dewi Dja Seniman Tari Dari Yogya yang Mendunia

Topik Dunia

Dewi Dja Seniman Tari Dari Yogya yang Mendunia

AGNES Monica kita jadi satu dari sekian artis Indonesia yang sukses go-international hingga ke Amerika Serikat. Namun salah jika mengiranya sebagai “perintis” artis yang dikenal luas di luar Tanah Air.

Di sisi lain ada beberapa nama artis juga yang sudah mendunia. Sebut saja Anggun C Sasmi, atau Joey Alexander si pianis cilik nan jenius yang pada 2016 lalu masuk dua nominasi kategori Grammy Awards.

Well, jauh sebelum eksistensi mereka ternyata sudah lebih dulu bersinar nama Dewi Dja. Ada yang kenal dengan nama ini?

Artis atau seniman Indonesia semestinya kenal dengan sosoknya. Penulis sendiri ingin bikin pengakuan, bahwa nama ini juga terdengar baru-baru ini secara tak sengaja.

Nama ini tak sengaja ketika iseng googling tentang model Playboy pertama asal Indonesia. Model yang dimaksud adalah Ratna Assan yang ternyata, tak lain adalah putri dari Dewi Dja dari pernikahan ketiganya dengan Ali Assan.

Dari berbagai sumber penulis kulik, ternyata kian dalam mengenalnya, rasa kagum semakin mengudara. Tidak hanya ternama sebagai seniman tari dan aktris Hollywood, Dewi Dja tak pernah lupa akan negeri kelahirannya kendati statusnya sudah berkewarganegaraan Amerika.

Kisah hidupnya dituliskan Ramadhan KH lewat sebuah biografi bertajuk ‘Gelombang Hidupku: Devi Dja dari Dardanella’ yang rilis 1982. Ya, kadang namanya dituliskan dengan Dewi Dja, kadang juga Devi Dja.

Singkat cerita tentang hidupnya, Dewi Dja lahir dari keluarga miskin dan buta huruf di Yogyakarta pada 1 Agustus 1914 dengan nama lahir Misri. Sebagaimana halnya Soekarno saat kecil berubah nama dari Kusno jadi Soekarno karena sakit-sakitan, Misri mengubah namanya jadi Soetidjah dengan panggilan Idjah atau Dja.

Sedangkan imbuhan nama “Dewi”, didapatnya dari Susuhan Keraton Surakarta lantaran sering tampil di keraton pecahan Kerajaan Mataram itu. Sedari kecil mulai menari sambil ngamen hingga ke Banyuwangi, Jawa Timur, Dewi Dja direkrut Kelompok Opera Dardanella.

Dalam berbagai tur rombongan ini pula Dewi Dja belajar baca tulis latin. Kariernya melonjak pesat di usia 16 tahun sampai bisa manggung ke Singapura, China, India, Turki, Prancis, Maroko, Jerman, Belanda, kemudian sampai ke New York, Amerika Serikat sebelum pecah Perang Dunia II.

Sempat dia kembali ke tanah air, tapi kemudian memilih menetap di Negeri Paman Sam. Dewi pertama kali dipinang oleh Willy Klimanoff yang juga pendiri Opera Dardanella, kemudian bercerai dan menikah lagi dengan pria Indian Acee Blue Eagle.

Meski mulai mendunia dengan berbagai julukan, “The Pavlova of the Orient”, hingga “Bintang dari Timur”, Dewi Dja bukan kacang lupa pada kulitnya. Dia tak melupakan negerinya yang memproklamirkan kemerdekaan tak lama pasca-Perang Dunia II.

Bahkan, Dewi Dja kerap menggalang dana bersama The Indonesian Association di San Francisco, demi sumbangan terhadap perjuangan RI di kancah perang revolusi 1945-1949.

Dewi Dja pada 1947 juga turut memperjuangkan pengakuan RI di Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai duta kebudayaan, kala Perdana Menteri Sutan Sjahrir beraudiensi memimpin delegasi RI.

Namun seringnya Dewi Dja berkumpul bersama para kompatriotnya, membuat hubungan Dewi Dja dengan suami keduanya renggang, hingga bercerai lagi pada 1952, atau setahun setelah mendapat kewarganegaraan Amerika.

Tapi wanita seistimewa Dewi Dja tak bertahan lama jadi janda, setelah salah satu pria asal Gresik, Ali Assan meminangnya. Dengan Ali Hassan inilah, Dewi Dja memiliki seorang putri, Ratna Assan.

Seiring waktu, nama Dewi Dja kian dikenal di belantara Hollywood dengan membintangi sekaligus jadi koreografer film Road to Singapore, The Picture of Dorian Gray, Three Came Home serta Road to Bali.

Tak lupa, Dewi Dja juga berkawan akrab dengan sejumlah bintang Hollywood macam Greta Garbo, Carry Cooper, Bob Hope, Dorothy Lamour, sampai Bing Crosby. Kariernya yang tengah berada di atas, kemudian juga jadi alasannya untuk urung kembali jadi warga negara Indonesia.

Walaupun yang pernah memintanya kembali adalah Presiden pertama RI Ir Soekarno. Ya, pada suatu ketika Soekarno bersama Guntur Soekarnoputra menyambangi Amerika, Dewi Dja menyambutnya dan menganjurkan dirinya kembali ke Tanah Air sekaligus melepas kewarganegaraan Amerika.

Tapi pekerjaannya di Amerika sulit membuatnya kembali ke Tanah Air, meski di dalam lubuk sanubari, Indonesia tetap jadi negeri kelahirannya yang tercinta. Hal itu dibuktikan dengan terus mempromosikan budaya Indonesia di Amerika dalam berbagai event.

Air mataku menetes lagi. Entah mengapa, barangkali karena cintaku sedemikian besar kepada sesuatu yang jauh. Daripadaku, aku tidak bisa melepaskannya. Tidak bisa! Seluruh hatiku tercurah baginya. Indonesiaku, engkau jauh di mata tetapi senantiasa dekat di hatiku. Bahkan menggelepas hidup di dalam jantungku,”

Begitu ungkapannya dalam biografinya. Namun pada 1982, Dewi Dja sempat kembali ke Indonesia atas undangan Festival Film Indonesia.

Tujuh tahun berselang, tepatnya pada 19 Januari 1989, Dewi Dja berpulang ke haribaan Yang Maha Kuasa di Los Angeles, Amerika Serikat, dekat kediamannya di Mission Hill, San Fernando Valley.

Kisah tentangnya juga kemudian disarikan Leona Mayer Merrin dalam ‘Devi Dja, Woman of Java’ (1989) dan ‘Lumhee Holot-Tee: The Art and Life of Acee Blue Eagle’ karya Tamara Liegerot Elder.

Kariernya di dunia hiburan turut dijejaki putrinya, Ratna Assan. Bahkan dia sempat membintangi film Papillon yang aktor utamanya Steve McQueen dan Dustin Hoffman.

Sayangnya film itu disensor ketika masuk ke Indonesia dan adegan-adegan Ratna yang memerankan gadis Indian bernama Zoraima, sama sekali tak terlihat. Ya mau bagaimana lagi? Soalnya adegannya cukup syur di mana Ratna Assan tampil topless alias telanjang dada.

Karena keberaniannya dalam penampilannya itu, Ratna Assan menarik perhatian Playboy. Terlebih paras wajah yang eksotis, membuat Ratna tampil di rubrik Pictorial pada Majalah Playboy edisi Februari 1974.

Komentar
To Top