Donald Trump Menang Pilpres AS dan Jadi Presiden Amerika ke 45, Ini Penyebabnya

Topik Dunia

Donald Trump Menang Pilpres AS dan Jadi Presiden Amerika ke 45, Ini Penyebabnya

Donald Trump terpilih menjadi presiden Amerika Serikat dalam persaingan sengit melawan Hillary Clinton, Rabu (8/10/2016).

Kemenangan Trump menjadi kejutan publik dunia yang menyorot Pilpres Amerika Serikat yang paling bersejarah.

Bagaimana Trump bisa menang? Koran Inggris The Guardian menurunkan artikel bagaimana Trump bisa terpilih menjadi presiden negara terkuat di dunia.

Meniru
Trump meniru dan mempermak janji Ronald Reagan soal pesimisme sekaligus optimisme dan ketakutan sekaligus harapan. Janji-janjinya yang membumi serta mudah dicerna orang dan patriotis telah menarik perhatian rakyat di negara di mana patriotisme tak bisa diremehkan.

Selebriti
Pada 2003 Trump menjadi pengasuh acara reality show televisi The Apprentice. Selama berpuluh tahun para pemirsa televisi mengenal citra Trump sebagai pengusaha sukses, bos yang punya kekuasaan untuk berkata “Kamu dipecat!”, dan orang yang bisa menyelesaikan masalah serta tahu segalanya.

Pada era media seperti sekarang, Trump diuntungkan tidak hanya oleh modal finansial. Trump juga diberkahi modal selebritas. Pada 8 November ini, Trump menuai berkah dari kedua hal itu.

Tahu Kelemahan Lawan
Trump tahu lawan yang dihadapinya tidak populer. Sebagai istri seorang mantan presiden yang pernah dua kali menjabat presiden, Hillary adalah wajah yang mewakili kelompok kemapanan. Akibatnya antusiasme kepadanya jauh lebih rendah dibandingkan dengan kemunculan Obama pada 2008.

Kerentanan Hillary terlihat ketika dia susah payah mengalahkan Senator Bernie Sanders yang menjadi lawannya pada pemilihan calon presiden dari kubu Demokrat. Ironisnya Sander dan Trump sama-sama menolak perdagangan bebas dan globalisasi.

Serang Kelompok Kemapanan
Trump memerangi partainya sendiri. Dia mencerca kaum kemapanan di Republik. Dia serang keluarga Bush, Ketua DPR Paul Ryan, bekas calon presiden Mitt Romney dan John McCain, serta banyak lagi.

Ini memang menyatukan Republik untuk menyudutkan balik Trump. Namun di mata rakyat Trump dianggap pahlawan karena berani menggugat kelompok kemapanan di mana pemilih Republik kerap mengeluhkan para wakil rakyat pilihan mereka dari Republik telah mengingkari janji-janji mereka. Jadi ketika Trump diserang kelompok kemapanan Republik dia malah dibela rakyat.

Antitesis Obama
Ketika Obama terpilih pertama kali pada 2008, 74 persen pemilih adalah kulit putih. Pada 2012, angka itu turun menjadi 71 persen, dan pada 2016 diperkirakan turun menjadi 69 persen.

Usai Mitt Romney kalah empat tahun silam, Republik didesak mengalihkan perhatian kepada pemilih wanita dan minoritas agar partai selamat. Namun Trump justru melakukan sebaliknya.

Dia bersikukuh menampilkan diri sebagai antitesis murni Obama, tak peduli suara perempuan dan minoritas. Dia justru menampilkan diri sebagai antitesis Obama yang peragu dan sabar. Berbalikkan dengan Obama yang peragu, sabar dan toleran, Trump malah terkesan tidak toleran, keras cenderung kasar, dan tidak sabaran.

Mengenai hal ini, David Axelrod, otak di balik sukses Obama pada Pemilu lalu, pernah berkata, ”Siapa di antara orang-orang Republik yang lebih antitesis untuk Obama ketimbang Trump yang tinggi hati, otoriter, dan tanpa tedeng aling-aling?”

PIDATO KEMENANGAN DAN REAKSI TRUMP

Dalam pidato kemenangan, Donald Trump meminta rakyat AS untuk mengesampingkan semua perdebatan panas dalam masa kampanye menjelang pemungutan suara dan bersama-sama membangun negara.

“Sudah saatnya mengesampingkan semua perbedaan dan bersama-sama membangun Amerika Serikat,” kata Trump pada Rabu dalam pidato kemenangan pemilihan presiden di depan para pendukungnya di New York, sebagaimana dilaporkan dalam siaran langsung saluran Washington Post.

Trump menjadi presiden tertua yang pernah terpilih di Amerika Serikat dalam usia 70 tahun. Sementara itu istrinya, Melania, merupakan imigran kedua yang berhasil tinggal di Gedung Putih sebagai ibu negara.

Donald Trump sukses mengalahkan rivalnya dari Partai Demokrat, Hillary Clinton dalam pemilihan umum presiden Amerika Serikat dengan meraih setidaknya 276 suara elektoral, demikian perhitungan dari sejumlah media setempat.

Clinton sendiri tidak akan berpidato mengakui kekalahannya pada saat ini dan meminta pendukungnya untuk tetap menunggu sampai semua suara dihitung, kata manajer kampanye Clinton.

“Clinton telah menelpon saya dan mengucapkan selamat kepada kita semua atas kemenangan bersejarah ini,” kata Trump.

TopikIndo Sharing

Ingin menulis di TopikIndo.com? Kirimkan ke redaksi@topikindo.com
1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)


Komentar
To Top