Fenomena Om Telolet Om Efektif Redam Isu SARA di Medsos

Topik Nusantara

Fenomena Om Telolet Om Efektif Redam Isu SARA di Medsos

Fenomena `om telolet om` yang viral di media sosial (medsos) dinilai efektif buat meredam isu suku agama ras dan antargolongan (SARA) yang memanas jelang Pilkada Serentak 2017.

Direktur Eksekutif Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi, Hariqo Wibawa Satria mengatakan, Pilkada serentak adalah pesta demokrasi yang penuh kegembiraan. Timses sebaiknya membuat konten-konten yang menginspirasi, menyenangkan dan menjadikan semua orang tersenyum dan tertawa.

“Misalnya, buatlah parodi dengan mengubah ‘Om Telolet Om’ yang sedang menjadi fenomena menjadi ‘Om Nyoblos Om’ atau ‘Om Jangan Fitnah Om’ dan hal-hal kreatif lainnya. Karena Pilkada serentak adalah perang kreatifitas dalam membuat konten, yang menghibur warga,” kata Hariqo dalam Diskusi bertajuk “Peran Media Alternatif dalam Meredam Isu Sara di Pilkada Serentak 2017”, yang diadakan Social Media for Civic Education (SMCE) di Aula Dewan Pers, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kamis (22/12/2016).

Calon kepala daerah harus mengajak masyarakat membuat konten internet sehat, misalnya dengan mengadakan lomba-lomba foto, video, dan lain-lain. “Medsos bisa menghimpun partisipasi, namun juga bisa merusak partisipasi. Karenanya, penyelenggara, peserta dan pemilihnya harus berintegritas,” kata Hariqo.

Komisioner KPU Pusat Ferry Kurnia Rizkiyansyah mengatakan, media sosial sebaiknya dipakai untuk meningkatkan kualitas demokrasi Indonesia.

“Kami tegaskan, medsos jangan digunakan untuk hal-hal yang mengurangi kualitas Pilkada serentak seperti memainkan isu SARA, fitnah dan lain-lain,”kata Ferry.

Menurut Ferry, kampanye di medsos sama dengan di dunia nyata. Dengan demikian, kampanye di medsos tetap harus mengedepankan kampanye dialogis dan pendidikan politik.

Pengamat media, Agus Sudibyo, mengatakan, medsos seperti Twitter, Facebook dan Google harus diingatkan agar tidak menyebarkan konten-konten SARA yang bisa memicu ketegangan di masyarakat.

“Google, Facebook, Twitter, Instagram, bukan semata medsos. Mereka semakin populer jika link-linknya disebarkan, iklannya bertambah, namun mereka tidak bertanggung jawab terhadap kegaduhan yang terjadi di masyarakat. Satu hal lagi, jangan sampai media mainstream menjadi follower medsos. Harus benar-benar dicek akun yang dikutip,” kata Agus.


Komentar
To Top