Indonesia Dinilai Terlalu Bergantung pada China, Ini Penjelasan Menko Luhut

Topik Nusantara

Indonesia Dinilai Terlalu Bergantung pada China, Ini Penjelasan Menko Luhut

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan, saat ini Indonesia tidak hanya bergantung pada China dalam hal investasi.

Menurutnya, negara-negara lain juga tengah bersaing untuk bisa berinvestasi di Indonesia termasuk negara sekelas Amerika Serikat sekalipun.

“Kenapa China berbondong-bondong investasi ke mari (Indonesia) Jepang juga bersaing. Kalau orang bicara kita (Indonesia) tergantung ke China nanti dulu. Kalau dia kasih bunga murah, term murah kenapa tidak,” ungkap Luhut di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (13/7/2017).

Kendati demikian, lanjut Luhut, Indonesia juga tak selalu menggantungkan diri pada investasi dari negara lain dalam hal pembangunan.

Menurutnya, Indonesia masih memiliki berbagai potensi untuk berdiri di kaki sendiri. Salah satunya adalah melalui penerimaan pajak dalam negeri dan juga program tax amnesty yang bisa digunakan untuk pembangunan infrastruktur.

“Sebagai negara kepulauan kita sekarang menata ekonomi bagus, kita masih ada problem purchasing power, ada gini rasio, tax rasio. Melalui tax amnesty saya harap penerimaan pajak kita bisa bertambah,” papar Luhut.

Selain itu, disamping adanya penerimaan pajak, Indonesia juga tengah menjajaki aturan keterbukaan informasi perpajakan yang dinilai akan berdampak pada peningkatan penerimaan perpajakan.

“Kita mulai masuk AEOI (Automatic Exchange of Information atau keterbukaan informasi perpajakan). Itu membuat kita mulai dengan transparan. Saya harap 2 sampai 3 tahun terkahir, kita bisa mungkin 1.800 triliun (penerimaan pajak) bisa bayangkan kita bisa banyak bangun,” kata Luhut.

Seperti diketahui, pemerintah tengah merevisi target penerimaan perpajakan tahun 2017.

Berdasarkan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2017, target penerimaan perpajakan diusulkan menjadi Rp 1.458,9 triliun dari target sebelumnya Rp 1.498,9 triliun.

Komentar
To Top