Kenapa Generasi Muda Saat Ini Dengan Mudah Sekali Memutuskan Bunuh Diri?

Topik Tips & Trik

Kenapa Generasi Muda Saat Ini Dengan Mudah Sekali Memutuskan Bunuh Diri?

Baru-baru ini netizen dikagetkan dengan kematian mendadak Oka Mahendra, CEO Takis Management sekaligus mantan pacar Awkarin. Tersebar desas-desus kematian Oka karena bunuh diri dua hari menjelang ulang tahunnya yang ke-23. Melihat karir Oka sebagai seorang CEO, yang bisa dikatakan identik kemapanan hidup, maka sedikit mengejutkan apabila akhirnya Oka bunuh diri.

Tidak lama sebelum itu Dosen Muda Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB (Institut Teknologi Bandung) Suryo Utomo (30), juga dikabarkan bunuh diri di Cianjur, Jawa Barat. Penyebab bunuh diri Suryo Utomo karena faktor depresi. Suryo dikabarkan bunuh diri setelah sebelumnya sempat dilaporkan hilang oleh pihak keluarga.

Dua kasus ini membuat publik bertanya-tanya. Kenapa bunuh diri menjadi pilihan akhir, padahal mereka adalah orang-orang yang yang sukses di usia muda loh.

Bunuh diri lalu menjadi fenomena sosial yang membentuk pola sedemikian rupa. Untuk mengetahui kenapa pola bunuh diri dan mengapa terjadi bahkan pada anak muda yang sukses di usia muda, sudah banyak kajian dan pendapat ahli.

Kajian mengenai bunuh diri sudah pernah disampaikan oleh Emile Durkheim dalam bukunya berjudul Suicide. Durkheim menjelaskan bahwa bunuh diri adalah kegiatan manusia yang lebih memilih kematian daripada kehidupan di dunia.

Bunuh diri dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Emile Durkheim menjelaskan faktor tersebut, antara lain egoistik, anomik, altruistik, dan fatalistik. Bunuh diri karena faktor altruistik, yakni ketika hubungan seseorang terlalu dekat. Faktor anomik, yakni karena aturan yang renggang di masyarakat, akibat lemahnya nilai dan norma. Faktor fatalistik yakni ketika peraturan terlalu mengekang. Terakhir egoistik, yakni ketika hubungan dengan lingkungan renggang.

Salah satu faktor terbesar yang menyebabkan bunuh diri yakni egoistik, dimana seseorang merasa tidak terintegrasi dengan lingkungan sosialnya dan memilih bersikap individual. Sikap individual dapat tumbuh akibat kerenggangan hubungan dengan lingkungan sosialnya.

“Semakin renggang hubungan dalam suatu kelompok, semakin berkurang ketergantungan orang pada kelompok tersebut, semakin ia bergantung pada diri sendiri dan menyadari tidak ada aturan yang membatasi keinginan pribadinya” jelas Durkheim dalam bukunya yang berjudul Suicide.

Dengan hubungan yang renggang dan merasa tak bergantung pada orang lain, maka seseorang dapat leluasa melakukan hal-hal menyeramkan seperti bunuh diri. Hubungan yang renggang ini bisa dipicu oleh perasaan terbuang dan hanya dimanfaatkan lingkungannya. Nah ini dia yang menyebabkan walapun sukses dan kaya raya seseorang memutuskan bunuh diri karena merasa dimanfaatkan hartanya.

Apabila kita telisik ke masa lalu, ternyata kasus bunuh diri semacam ini pernah menimpa orang-orang besar lainnya loh. Sebagai contoh Kurt Cobain anggota band Nirvana dan Marlyn Monroe yang menggemparkan jagad hiburan dunia, diduga bunuh diri karena faktor egoistik dan depresi mendalam.

Lalu bagaimana sih tanda-tanda depresi yang dapat memicu bunuh diri? Menurut Margaretha, psikolog dari Unair (Universitas Airlangga), tanda-tanda depresi ialah sulit tidur, berkurangnya nafsu makan, sedih yang mendalam dan berlarut, serta menarik diri terhadap lingkungannya.

“Apabila mulai muncul gejala demikian, maka lebih baik orang sekitarnya mencoba mendekati dan menghibur sehingga terhindar dari kejadian yang tidak diinginkan seperti bunuh diri,” jelas Margaretha kepada Brilio.net, Kamis (20/7).

Margaretha juga menambahkan sebab lain yang memungkinkan seseorang untuk bunuh diri antara lain bipolar, penyalahgunaan zat, dan skizofrenia. Seseorang yang bipolar dapat berubah dari senang yang berlebih dan sedih yang berlebih pula. Ketika sedih maka otak akan mencoba mencari solusi mengakhiri kesedihan, yang dapat berujung pada memilih bunuh diri. Penyalahgunaan zat seperti alkohol juga mampu memicu bunuh diri. Hal tersebut dikarenakan zat dalam alkohol memicu perilaku yang berani, salah satunya berani mengambil keputusan bunuh diri.

Terakhir yakni skizrofenia, terjadi ketika seseorang tidak dapat membedakan yang nyata dan yang mimpi. Penderita skizofrenia dapat mengalami delusi, halusinasi, dan seperti mendapat bisikan untuk bunuh diri dari seseorang yang wujudnya tak tampak.

Itulah sebabnya kenapa kamu semua penting untuk selalu bahagia.

Komentar
To Top