Ini Penyebab Mengapa Endorsement di Media Sosial Jadi Incaran Petugas Pajak

Topik Bisnis

Ini Penyebab Mengapa Endorsement di Media Sosial Jadi Incaran Petugas Pajak

Berapa banyak follower Anda di Instagram, Facebook, atau Snapchat? Jika sudah puluhan ribu, Anda bisa jadi jutawan. Jika Anda di Amerika dan punya follower jutaan, Anda bisa meraup miliaran rupiah hanya dengan satu kali posting menyebut produk tertentu. Istilahnya: endorsement.

Di akun Instagram-nya, Maliyya kerap memajang fotonya dengan berbagai macam pose. Tapi belakangan ia sering sekali memajang foto close-up dengan warna lipstik yang berbeda-beda. Ternyata ia sedang mendukung merek lipstik yang ia pakai. Bahasa yang umum dipakai: endorsement.

Satu hari, Maliyya bisa mengumumkan dirinya memakai merk lipstik A, besoknya lagi merk B, dan seterusnya. Iyya, begitu ia biasa dipanggil, memulainya sejak 2013 sebagai beauty blogger. Model bisnisnya: ulasan produk. Tetapi seringkali ia hanya menyertakan tautan situsweb jika sedang mempromosikan tempat belanja.

“Rate-nya Rp 300 ribu++ tergantung kesepakatan aja, per satu tulisan,” katanya. Untuk endorsement ini, Iyya juga biasanya harus mempromosikan produk itu di akun-akun media sosialnya, terutama Instagram.

Bisa Mencapai Miliaran Per Posting

Jika seorang beauty blogger seperti Iyya bisa menghasilkan lebih dari 2 kali lipat UMP DKI Jakarta hanya dengan tiap hari menulis ulasan lisptik atau perona pipi atau eye shadow, tarifnya bisa jor-joran bagi seorang pesohor di media sosial dengan jumlah pengikut jutaan.

Di Indonesia, tarif seorang seleb Twitter bisa jutaan untuk satu twit. “Ada yang tarifnya Rp 5 juta per twit atau status Facebook, bahkan lebih” ucap Dian Paramita, yang kerap menyusun strategi pemasaran di media sosial.

Sayang, Dian enggan menyebut nama. Ia hanya menyebut bahwa pengikutnya mesti jutaan. Tapi dengan angka itu, Anda bisa bayangkan jika sang seleb bisa mendapat tawaran “job” dengan mengunggah satu kiriman per hari saja di Facebook. Untuk sebulan, ehm, Rp150 juta bisa nangkring di rekening.

Data Captiv8 yang dikutip The Economist menyebut angka yang lebih gila lagi. Seseorang dengan dengan pengikut sebanyak 3-7 juta bisa mengecas harga rata-rata $93.750 per status Facebook dan $75.000 per post di Instagram atau Snapchat. Berapa dalam rupiah? Kira-kira Rp975 juta per sekali kerja cekrek foto di Instagram.

Jika Anda mau lebih kaya lagi, jadilah pesohor di Youtube. Untuk jumlah follower yang kira-kira sama, jumlah pendapatannya berlipat. Untuk satu post, seleb-seleb gambar bergerak ini dihargai sekitar $187.500 atau Rp2,4 miliar.

Tentu, data-data itu ada konteksnya, terkhusus untuk Amerika Serikat. Tapi, angka itu bisa memberi ilustrasi pentingnya ahli pemasaran untuk benar-benar menguasai modus kerja era internet yang dihidupi para native digital.

Menurut The Economist, media sosial pendatang baru macam Snapchat meraih 40 persen anak muda Amerika berumuran 18-34 tahun setiap harinya. Belum lagi Instagram.

Di media-media sosial berbasis berbagi gambar ini, konsumer benar-benar merasa bisa mengakses idola-idola mereka. Lain dengan era radio dan televisi di mana ada yang menjadi perantara atau medium di antara konsumer dengan idola yang menjadi bintang iklan.

“Itu memungkinkan para sponsor berinteraksi dengan audiens target mereka dengan cara yang tak bisa dicapai oleh periklanan tradisional. Maka, permintaan dari para pemasar untuk saluran-saluran ini membuat media sosial menjadi wilayah menguntungkan bagi mereka yang pengikutnya banyak,” begitu yang ditulis The Economist.

Efeknya Tunai

Dengan biaya endorsement semahal itu, apakah hasilnya benar-benar sepadan bagi produsen dan pemasar? Jawabannya, menurut Marketwatch: iya.

Satu endorsement saja bisa segera meningkatkan penjualan sebesar 4 persen. Efeknya bisa lebih besar lagi jika merek itu bisa menemukan nama masyhur untuk memengaruhi audiens mereka.

Contohnya Cristiano Ronaldo. Berbagai macam produk di-endorse oleh salah satu seleb tersohor di dunia sepakbola ini, termasuk yang paling absurd semacam alat pembikin perut menjadi kotak-kotak secara instan.

Belum lagi seleb-seleb instagram semacam Kim Kardashian dan seluruh klan keluarga ini. Bukan aktor, bukan vokalis, bukan anak band. Tapi semua bisa melihat bahwa pengikut berjumlah jutaan bisa menghadirkan gaya hidup yang sangat mewah.

Dalam studi berjudul “Impact of celebrity endorsements on consumer brand loyalty: Does it really matter?” yang dibuat Uttera Chaudhary dan Ankita Asthana, disebut juga bahwa nilai yang ditambahkan oleh para pesohor ini bersifat langsung dan terasa secara signifikan. Endorsement dari para pesohor itu membuat produk itu terlegitimasi, hanya dengan kekuatan nama dari si pesohor.

“[P]enggunaan pesohor untuk meng-endorse penawaran pemasaran dianggap meningkatkan kesadaran, ketanggapan, dan citra merek dari produk [yang ditampilkan] dan menciptakan hubungan yang memaksa konsumer untuk memakai produk itu,” tulis mereka.

Tapi, menurut kedua peneliti itu, para pemasar dan produsen tetap harus hati-hati. Para pesohor saja atau kampanye periklanan yang hebat tak bisa menjamin kesuksesan suatu produk di pasar. Ada banyak faktor yang mempengaruhi, terutama harga produk. Selain itu, konsumer sekarang ini juga lebih berpendidikan dan cerdas.

Mereka, konsumer yang cerdas ini, paham bahwa para pesohor itu tak mempromosikan barang tanpa dibayar. Dan pengetahuan itu membuat mereka lebih bersikap praktis dalam menilai suatu produk. Meski endorsement berefek langsung, kebanyakan responden dalam penelitian Chaudhary dan Asthana tetap memilih kualitas dan citra merek.

Mereka tak akan tiba-tiba mengganti merek yang biasa mereka pakai hanya karena pesohor idolanya meng-endorse merek lain.


Komentar
To Top