Samsung Dirundung Masalah Ledakan Baterai di Galaxy Note 7

Topik Bisnis

Samsung Dirundung Masalah Ledakan Baterai di Galaxy Note 7

Samsung Dirundung Masalah Ledakan Baterai di Galaxy Note 7

topikindo.com – Harga saham Samsung jatuh pada Senin (12/9) setelah raksasa elektronik dari Korea Selatan (Korsel) ini mendesak konsumen global menghentikan penggunaan smartphone Galaxy Note 7 karena serentetan insiden ledakan baterai telah meningkatkan kekhawatiran di seluruh dunia.

Samsung pada Minggu (11/9) meminta para pengguna Note 7 di seluruh dunia untuk secepatnya mematikan perangkat tersebut.

Alhasil harga saham perseroan turun 7% dan ditutup pada level 1,46 juta won (US$ 1.318) di bursa Seoul. Ini merupakan level terendah dalam dua bulan dan menunjukkan penurunan harian tebesar sepanjang tahun ini hingga menggerus kapitalisasi perusahaan sekitar 15 triliun won.

Samsung Electronics pada 2 September 2016 mengumumkan penarikan ponsel yang dari sisi tipe disebut phablet ini. Cacat pada baterai menyebabkan beberapa perangkat meledak dan terbakar saat pengisian ulang baterai.

Sejak itu sejumlah maskapai penerbangan dan badan keselamatan udara dunia mengingatkan para penumpang untuk tidak menggunakannya dalam penerbangan. Komisi Keselamatan Produk Konsumen Amerika Serikat (AS) atau CPSC pada Jumat (10/9) waktu setempat mendesak para pemilik Note 7 untuk berhenti menggunakannya.

“Situasi yang menyelimuti Samsung ini menjadi lebih serius dan rumit karena makin banyak otoritas di seluruh dunia mengingatkan warganya untuk berhenti menggunakan Note 7,” kata Hwang Min Sung, analis dari Samsung Securities, seperti dikutip AFP.

Ia mengingatkan, dampak recall yang hingga saat ini sudah mencapai 2,5 juta handset di 10 negara dapat memangkas laba perseroan tahun ini lebih dari satu triliun won.

Recall pertama terhadap produk andalan Samsung ini merupakan pukulan besar terhadap reputasi perusahaan, ketika persaingan makin sengit di semua segmen pasar.

Samsung, semakin terjepit oleh iPhone dari Apple di pasar high-end dan para pesaing dari Tiongkok di segmen low-end. Note 7 diluncurkan mendahului ekspektasi, menjelang peluncuran iPhone 7 pada 7 September 2016.

Smartphone memberikan keuntungan paling besar bagi Samsung, yang juga memproduksi peralatan rumah tangga dan chip memori komputer.

Koh Dong Jin, kepala bisnis mobile Samsung sebelumnya mengatakan, tingkat kecacatan pada Note 7 mencapai 24 handset per satu juta unit. Akan memakan waktu sekitar dua pekan untuk mempersiapkan unit penggantinya.

“Kami meminta pengguna untuk mematikan Galaxy Note 7s dan menukarkannya sesegera mungkin,” ucap Koh dalam sebuah pernyataan, Sabtu, (10/9).

Ia menambahkan perseroan bekerja sama dengan badan-badan regulator nasional di seluruh dunia. Koh menyarankan konsumen untuk menggunakan ponsel pengganti yang akan dipinjamkan oleh perusahaan hingga Note 7 yang baru tersedia dengan baterai bebas masalah.

“Kami mendorong para pengguna Note 7 untuk menghubungi tempat pembelian atau menghubungi call center yang ditunjuk secara lokal sesegera mungkin,” bunyi pernyataan itu.

Kekhawatiran atas perangkat tersebut membuat maskapai dan otoritas penerbangan di sejumlah negara, termasuk AS, Australia, Kanada, Jepang, Singapura, Indonesia, India, dan Uni Emirat Arab (UEA) untuk melarang penggunaan Note 7 selama penerbangan.

Tetapi kasus baterai meledak terus muncul setelah pengumuman penarikan oleh Samsung. Para pengguna yang Note 7-nya terbakar hingga merusak sebuah kamar hotel di Australia dan ada yang sampai melalap sebuah mobil di AS.

Dalam berita yang menjadi viral pada pekan lalu, seorang pria Florida menyaksikan mobilnya terbakar saat ia meninggalkan Note 7 yang sedang di-charge di dalam mobil. Gambar-gambar di media sosial menunjukkan mobil Jeep-nya dilalap api.

Samsung mengakui dua insiden itu dan pihak berwenang lokal sedang menyelidiki kasus yang di AS.

Krisis terbaru ini terjadi pada saat yang sensitif bagi puncak manajemen Samsung.

Perseroan sedang mempercepat transfer kekuasaan antargenerasi di lingkaran keluarga pendiri. Keluarga Lee yang mengendalikan perusahaan dan induk grup Samsung. Pemimpin saat ini Lee Kun Hee terbaring di tempat tidur sejak terkena serangan jantung pada 2014.

Dewan direksi Samsung Electronics pada Senin mengusulkan pencalonan putra Lee, Lee JY, sebagai anggota dewan yang baru.
Lee junior sudah menjadi wakil pemimpin perusahaan sejak 2013, namun belum resmi mengambil kursi dewan gubernur. Ia dikenal sebagai sosok low profile.

Tapi para anggota dewan direksi Samsung dalam pernyataanya mengatakan, sekarang waktu yang tepat untuk mencalonkan Lee junior sebagai anggota dewan agar bisa mengambil peran lebih aktif dalam pengambilan keputusan strategis perusahaan.


Komentar
To Top